Tak Kenal Maka Tak Sayang …… (Sekilas tindakan “Anarsis”)

Januari 26, 2009

Bukan bermaksud mau rasis, primordial maupun etnosentris (cieee …. Keren juga kata-katanya, padahal aku nggak tahu artinya lho …..) tapi pertama-tama yang mau aku ceritakan adalah aku orang Jawa Asli (kenapa harus ada kata “asli”?, nanti kita lihat), karena aku dilahirkan di Purbalingga dan kedua orangtuaku juga asli dari daerah itu. Purbalingga adalah sebuah kota kecil yang pernah dibuat terkenal ke seluruh antero Indonesia bahkan mungkin mancanegara oleh Sumanto “sang pemakan mayat” dan di kawasan lokal Jawa Tengah orang mengenalnya dengan daerah yang memiliki objek wisata air terkenal yang disebut dengan “Owabong” , dan rumahku hanya berjarak kurang lebih 4 Km kea rah utara objek wisata tersebut. Ini penting banget aku tulis disini, hal ini dikarena orang sering mengasumsikan nama asliku Victor Assani (Desiawan, kata yang ketiga ini jarang aku pakai karena kepanjangan jadinya ……), sebagai orang Batak he he he ….

IMG-20110801-00628

Tapi apa daya ketika orang masih mengasumsikan aku sebagai orang batak, maka aku juga memaksakan diri untuk punya ”marga” Batak yaitu ”Tambunan” makanya namaku menjadi Victor Tambunan, maksudnya Victor yang orang Tambun, karena saat ini aku berkantor di Tambun (mohon maaf kepada marga terkait, just kidding), hal ini karena aku bekerja di Tambun, Bekasi Timur, jadi kalau kita keluar dari tol Bekasi Timur, maka tidak lebih dari 10 menit sudah sampai ke tempat kerjaku, tapi dengan catatan tidak ada macet lho ………oh iya tepatnya pada sebuah pabrik automotive yang memproduksi kendaraan roda dua maupun empat bermerek Jepang, yang juga merupakan perusahaan otomotif terbesar ke 3 di negeri ini, baik mobil maupun motor, disitu saya menjadi pekerja di bagian service dan kebetulan saya disuruh oleh perusahaan untuk mengurus ladang khususnya yang adalah di wilayah Jawa Tengah dan Jogjakarta dengan sekitar tidak kurang dari 300 jaringan atau setara dengan kurang lebih 1.000 orang yang berada di dalamnya.

DSC00366

Sekalipun di bagian namaku mengandung unsure international (cieeee …..) tapi asal usulku adalah orang kampung alias wong ndeso. Sehingga aku tumbuh dan berkembang di daerah pedesaan, sampai-sampai pada saat itu di kampungku belum ada TK (jadi aku nggak bisa nyanyi lagu Balonku ada Lima, yang bisa aku hanya be lagu), he he he bahkan orang bilang, monyet aja nggak betah hidup di kampungku ……. Sehingga aku harus langsung bersekolah di kelas 1 SD, sekaligus dititipkan ke Mbah ku (adiknya Nenekku) yang seorang kepala SD, sekalipun umurku belum genap 5 tahun pada saat itu, disamping memang aku hidup di lingkungan orang berpendidikan (makudku bapak-ibuku orang pendidikan), karena saat itu bapaku adalah kepala SD dan ibuku guru SD di daerah kecamatan Mrebet …. Jadi mungkin pada saat itu orang tuaku mikir, daripada ngerepotin lagian juga nggak punya pembantu, mending sekalian dititipkan aja ke sekolah he he he …. Jadi belum genap umur 10 tahun aku sudah lulus SD.

Mandai-20110618-00314

Sejarah sekolahku dari SD sampai dengan SMA (semuanya di sekolah negeri yang murah namun berkualitas lho …..) aku lewati dengan lancar, aman dan terkendali, bahkan aku pernah menjuarai sebuah “kejuaraan pinter-pinteran” tingkat kabupaten pada saat SD, sekalipun di temat ke II , pokonya sekolahnya cukup menyenangkan dan pengalamannya juga sangat menakjubkan, menjadi rangking 1 di SD, SMP sampai dengan mencicipi rangking terakhir (47/47) pada saat semester 3 di SMA Negeri paling favorit di kabupatenku dan sumur-umur aku ngalamin sekolah mendapatkan nilai 5 di raport ya pada saat itu, pelajaran Kimia …… aku juga inget waktu itu nama guruku adalah Ibu Umi Rahayu, akhirnya gara-gara hal ini aku terpaksa harus dimasukan les privat untuk 4 bidang studi sekaligus dengan guru-guru yang berbeda setiap pulang dari sekolah …… he he he hasilnya waktu itu tidak sia-sia lah, karena aku bisa masuk rangking 20 besar (alias rangking 20) he he he gitu aja bangga ya?

IMG-20110720-00547

Yah mau gimana lagi, akhirnya hobiku ya membaca buku dan belajar (hmmm aku juga nggak nyangka), mungkin karena sejak kecil yang terngiang di telingaku hanya kata “belajar, belajar dan belajar” he he he ………. sehingga “terpaksa” hobiku jadi mengikuti doktrin itu, selain itu hobi utamaku adalah nyangkem dan ngoceh ini mungkin di karenakan dalam darahku juga mengalir darah trah Fisipol dari sebuah universitas negeri terkenal di Jogjakarta, sehingga mau-nggak mau hobiku kalau nggak nyangkem ya nulis, begitu juga sebaliknya kalau nggak nulis ya nyangkem he he he ………

IMG-20110620-00338

Ya paling tidak kata ijazahku yang ditandatangani oleh dua orang professor yang bernama Sunyoto Usman dan Ichlasul Amal, gelarku katanya S.Sos, namun sebelumnya aku kalau tidak salah juga pernah mendapatkan gelar yang dulu katanya terkenal dengan sebutan “Insinyur” dari sebuah padepokan tinggi di bawah Lereng Merapi he he he ………. beda ama Misteri Gunung Merapi yang Rektornya namanya Mak Lampir lho, tapi kepala sekolahnya seorang kyai yang namanya dulu Zaini Dahlan (kalau nggak salah ada proffesor juga) …… sekalipun ada sesuatu yang bisa ditempel kan di belakang nama saya he he he ……namun di kartu namaku sih hanya aku tulis Victor Assani saja ………. Mengapa aku sampai berguru di dua padepokan? yah itu kan hanya sebuah implikasi dari banyakya waktu luang ketika merumput di Jogjakarta, makanya aku mending mengisi waktu dengan kuliah, bahkan saking masih adanya waktu yang tersisa kala itu, saya juga menceburkan diri dalam berbagai aktifitas di kampus …………

Bersama-sama KLP IV (Kagama Leadership Program)

Sekolah adalah Candu, begitulah kata seorang pengarang buku yang namanya aku lupa, begitupun yang selalu aku rasakan. Karena merasa kurang banget dalam hal bekal ilmu dan tidak adanya tantangan membuat aku kepengen sekolah lagi, namun sayang, apadaya aku hanya pegawai swasta kecil yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah, terpaksa waktu itu hanya aku gantungkan di gantungan baju kamarku, yah seperti inilah negeri kita, pendidikan hanya untuk orang yang berduit saja (memang ada sih beasiswa, atau nama kerenya scholarship Cuma saya kan bukan orang yang terlalu pinter dan punya kesempatan, buktinya dari dulu nggak pernah dapet, mungkin kurang beruntung kali ya). Bahkan semakin kesini, pendidikian di Indonesia semakin digiring menjadi sebuah institusi yang murni profit oriented yang hanya untuk mengeruk keuntungan tanpa adanya misi social, apalagi sekarang UU BHP udah mau disahkan wooooowwww good bye deh rakyat miskin, anda tidak akan mendapatkan hak untuk bersekolah yang layak di negeri ini.

Tebet-20110624-00353

Awal 2009 akhirnya aku nekat mencoba dan mengadu kemampuan untuk sekolah lagi, dan berhasil, sekalipun aku sempat hampir menyerah ketika harus melahap 100 butir soal bahasa inggris ……. Bla, bla, bla aku dapat lulus, namun sialnya, saat ini saya juga merasa menjadi korban dalam kapitalisme dan komersialisasi di dunia pendidikan negeri ini khususnya di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta, bagaimana tidak? Biaya sumbangan pendidikan awal yang tadinya hanya beberapa juta dalam sekejap menjadi 300% dibandingkan dengan biaya pada tahun 2007, menjadi dua digit dengan digit dua ….. ah gilaaa ……. Pikirku. Padahal di fakultas-fakultas lain misalnya ada kenaikan juga paling sekitar 1 – 3 juta doang dan nyaris nggak ada perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya, paling tidak itu yang sempat aku temukan dalam lembaran yang bertuliskan Biaya Pendidikan Mahasiswa Baru 2009/2010 yang ditandatangani oleh Prof. Dr. der.Soz. G R S …………….. akankah hal ini membuat aku menjadi gigit jari? Tidak ada kata yang bisa kuungkapkan untuk hal ini kecuali mangkel, jengkel, nggak habis pikir, marah dan emosi.

(Kalau kurang jelas tulisannya, diklik aja gambarnya biar mudah dan jelas kebacanya lho ya)

1379659_10202197911658117_163080443_n

Do’a ku adalah agar para penyelenggara pendidikan di negeri ini khususnya yang dikelola oleh pemerintah dan diamanatkan untuk melayani rakyat, tapi akhirnya hanya melayani orang-orang berduit dan mengabaikan orang-orang kecil untuk mendapatkan haknya belajar karena tingginya biaya pendidikan, diberikan ganjaran yang setimpal olehnya ……………

Motivasiku sih hanya ingin menambah wawasan secara formal, mencari teman, ngisi kesibukan, ngasah otak dan menambah relasi, kalau orientasinya Cuma buat ngedapeti ijazah sih Gampang saja, toh sekarang tidak terlalu silit mencari ijazah, jangankan untuk level Master, level Doktor, bahkan Professor aja bisa dibeli tuh padahal yang namanya Proffesor itu bukan gelar akademik, tapi jabatan akademik yang hanya berlaku untuk guru/dosen dan peneliti saja, tapi banyak tuh di emperan Jakarta ….. heran aku, tinggal mau deal di harga berapa, beberapa menit juga selesai, apalagi Cuma misalnya gelar S1 yaaaaah ……. 

558651_10202197913258157_1183106158_n

Alhamdulillah …… dengan perjuangan yang cukup keras, aku jalani perburuan ilmu dan perburuan relasi tersebut dalam tiga semester dan menjadi salah satu dari 6 orang lulusan tercepat di angkatanku he he he ………….. (Lha September 2009 aku mulai kuliah dan bisa lulus sidang tesis Desember 2010, tepuk tangan dong sodara-sodara ….. plok plok plok, dengan IPK yang cukuplah kalau buat ngelanjutin ke program Doktor).

Oh iya tulisan ini Cuma iseng dan dokumentasi pribadiku saja yang kebetulan aku publikasikan, jadi mohon maaf isinya juga apa yang sedang aku pikirkan dan ingin tuliskan, jadi kalau ada seseorang yang tersinggung, abaikan sajalah anggap saja ini merupakan gurauan, kalau ada benarnya ya memang sudah seharusnya, tapi kalau ternyata banyak salahnya, nama dan tempat yang ada dalam tulisan ini adalah fiktif belaka  ……..

Eh nggak ding beneran . Pokoknya salah sendiri anda-membaca-bacanya ………. He he he Don’t try this at home


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.